-->

Kamis, 15 Oktober 2009

"Itu Sama Menghina Rasul"

MAKASSAR -- Tokoh agama di Sulsel menegaskan bahwa tidak boleh melukis wajah Rasulullah dan Khalifah Ali ra. Sebab tidak ada orang yang mengetahui secara persis wajah keduanya, kecuali para sahabat yang hidup di zaman Rasulullah.

Maka jika ada yang melukis wajah keduanya, maka sama saja dengan mengada-adakan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya. Dalam agama Islam perbuatan tersebut dianggap tidak terpuji dan sebaiknya dihentikan.

Begitu pendapat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel AGH Sanusi Baco dan Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah H Zaitun Rasmin, Lc yang dihubungi terpisah malam tadi. Pendapat sedikit berbeda dikemukakan Direktur Iranian Corner, Supa Atha'na.

Sanusi yang juga Ketua Majelis Syuro Nahdlatul Ulama Sulsel, mengatakan kalau ada foto Rasulullah dan Khalifah Ali yang beredar saat ini, maka itu dibuat-buat. Apalagi, katanya, Rasulullah hidup belasan abad yang silam.

"Saat itu belum ada tukang foto. Lalu, tidak ada sahabat yang pernah mencoba melukis wajah Rasulullah saat itu," katanya.
Sanusi mengatakan tidak ada alasan untuk mengedarkan lukisan wajah Rasulullah, baik melalui poster, pin, dan alat peraga lainnya.

Dalam salah satu hadisnya, lanjut Sanusi, secara implisit Rasulullah telah mengingatkan bahwa tak terlalu penting melihat wujudnya. Rasulullah mengatakan, "Lebih bahagia orang yang beriman kepadaku sekalipun tidak pernah melihatku."

Makanya, kalau ada orang yang mengedarkan foto Rasulullah atau Khalifah Ali, itu menjadi tugas aparat penegak hukum untuk menyelidikinya. Bisa jadi, katanya, terdapat unsur penghinaan di dalamnya.
Zaitun Rasmin juga mengungkapkan hal senada.

Dia menegaskan bahwa terlalu rumit menggambarkan wajah Rasulullah. Apalagi orang yang melukisnya tersebut tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah.

Dengan demikian, lukisan atau gambar-gambar tersebut bisa menimbulkan interpretasi macam-macam. Apalagi bagi orang yang awam. Bisa saja ada orang yang kemudian mendewakan gambar-gambar tersebut. "Tidak ada alasan untuk melukis wajah Rasulullah," tegasnya.

Menurutnya, beredarnya pin tersebut di masyarakat harus ditentang. Zaitun menyebut perbuatan menyebarkan gambar itu diharamkan ummat Islam dan harus ditindak secara hukum.

"Kami belum lihat pin-nya seperti apa. Tapi kalau memang betul ada, maka saya kira itu diada-adakan. Ijma ulama Islam, sejak dulu tak pernah ada yang seperti ini, di mana Nabi digambarkan dalam sebuah gambar atau benda. Jadi ini sudah syirik dan menghina Rasul," katanya.

Zaitun menduga munculnya pin nabi dan kini beredar di masyarakat itu akibat ulah orang-orang yang tidak paham atau malah punya niat kurang baik terhadap Islam.

"Tidak satu pun yang pernah tahu wajah Rasulullah, Jadi, kalau muncul sebuah gambar yang seolah-olah itu Nabi Muhammad maka sama saja menghina Rasul. Siapa menghina Rasul itu sama saja menghina umat Islam. Ini harus ditindak," ungkapnya.

Sebenarnya, foto atau gambar Rasulullah bukan baru muncul saat ini. Sejak lama, wajah Rasulullah dan Khalifah Ali dilukiskan dalam bentuk poster dan dimiliki oleh beberapa kalangan umat Islam.

Di luar negeri pun demikian. Salah satunya di Iran. Di negara yang penduduknya terkenal mayoritas pengikut Syiah itu, juga banyak ditemukan poster-poster bergambar Rasulullah, Khalifah Ali, dan Imam Hussein.

Direktur Iranian Corner, Supa Atha'na, mengatakan wajar jika ada yang mempersoalkan kehadiran gambar-gambar itu. Sebab, tidak ada yang bisa memastikan bahwa wajah Rasulullah atau Khalifah Ali benar seperti itu.

"Tetapi, bagi saya boleh-boleh saja ada gambar demikian. Sepanjang, dimaksudkan sebagai ekspresi kecintaan kita kepada beliau," katanya.

Berdasarkan pengamatannya baik di Iran maupun di Sulsel, Supa mengatakan bahwa meski ada poster yang beredar, umumnya pelukisnya tidak memutlakkan bahwa itu benar-benar wajah asli Rasulullah atau Khalifah Ali.

"Biasanya gambar itu diperoleh dari mimpi sufi. Lalu, dalam beberapa keterangan disebutkan ciri-ciri beliau. Itulah yang menjadi inspirasi untuk melukis wajah Rasulullah dan Imam Ali," jelasnya.
Keterangan tentang ciri-ciri Rasulullah, lanjut Supa, bisa ditemukan dalam kitab Barasanji. Di situ disebutkan bahwa wajah Rasulullah, misalnya, bercahaya seperti rembulan dan lain-lain.

Yang jelas, kata Supa, poster Rasulullah yang beredar di Iran saat ini adalah wajah ketika Rasulullah baru berusia 14 tahun. Tidak ada poster yang menggambarkan wajah Rasulullah saat dewasa.

--[gizel]-- wah ni sangad mnyesatkan.... kita sebagai umat yang taat pada syariat-syariat Islam, tidak boleh ikut-ikutan....!!!! http://www.emocutez.com

1 komentar:

Unknown mengatakan...

jiaah....
foto profil-nya kok kayaknya pernah liad ya..??

haha, kayak punyaku..
wkwkwkwk..

Posting Komentar